Change

big_thumb_8c33d4dc0e7ab01835490d3d98a15dfd-copy

Aku bangun dipagi hari. Dingin. Aku merasa hembusan angin diluar sana membelaiku. Aku melirik ke arah jendela yang sepertinya terbuka. Ternyata dugaanku itu benar. Aku berjalan gontai ke arah jendela kemudian menutupnya rapat-rapat.

Aku melihat alarm yang masih menunjukkan pukul 4 pagi.Ku putuskan untuk merapikan tempat tidur yang sudah porak poranda.Klik! Suara stop kontak ditekan,pasti Ibu.Aku segera keluar kamar dan menemui Ibu.
“Selamat pagi,Bu.” Sapaku.
“Pagi,Del.Tumben sekali jam segini sudah bangun?” Ibu bertanya.
“Ehm,tadi…Cait tidak sengaja bangun,hehehe.” Jawabku.
“Yasudah.Rapikan tempat tidurmu lalu setelah itu mandi.Ibu mau masak untuk sarapan.” Ibu kemudian pergi ke dapur.

Baiklah,ini masih jam setengah lima. Tidak mungkin aku mandi jam segini. Aku berlari menuju kamar dan menutup pintu. Aku duduk di depan meja rias kemudian menguncir rambut panjangku. Kriiinnnggg….kriiinnnggg…kriiinnnggg…alarm membunyikan denting dengan keras. Aku mematikan alaram tersebut. Jam menunjukkan pukul lima pagi. Saatnya mandi. Berjalan gontai ke kamar mandi.

Selesai.Aku memakai seragam sekolah dan kemudian menyiapkan buku-buku yang harus kubawa hari ini.
“CAIT!!!SARAPANN!!.” Terdengar suara ibu memanggilku.Aku bergegas menemui ibu dan ayah di ruang makan.Pagi ini kami sarapan dengan hening.Entahlah,tidak seperti biasanya seperti ini.Terdengar dentingan sendok dan garpu yang menjadi soundtrack sarapan pagi ini.Seusai sarapan,aku memakai sepatu dan kemudian berpamitan dengan ibu.Klakson mobil ayah berbunyi,artinya aku harus segera bergegas.Aku berlari ke garasi kemudian naik ke mobil.Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah.

   Tak terasa,aku sampai di sekolah.Aku melambaikan tangan ke arah ayah dan ayah membalasnya.Aku segera masuk ke sekolah karena sudah hampir terlambat.Hosh…hosh…hosh…aku menaiki anak tangga yang menuju ke lantai tiga.Dan sampailah aku di depan kelas 8F.Aku melihat sahabatku Tarra yang sedang mengobrol dengan segerombolan anak-anak.Aku menghampiri mereka kemudian menyapa mereka.Mereka menatapku dengan sinis dan diantaranya ada yang saling berbisik-bisik.Ada apa ini? Apa aku salah?.Belum sempat aku bertanya,Tarra menghampiriku kemudian menarik tanganku ke pojok kelas.Aku sedikit marah-marah karena Tarra menggenggam pergelangan tanganku dengan keras.Tarra kemudian mulai membentakku.Sebelumnnya dia tidak pernah membentakku sekeras ini,apa yang terjadi?

“Eh,kalau kamu gak suka sama aku bilang aja,gausah main kode-kodean.” Tarra membentakku.
“Apaan sih? Tar,aku gank ngerti semua yang kamu bicarain ini.”
Aku sedikit membentak.
“Gausah munafik,kalu gak niat sahabatan gausah jadi sahabatku lagi.” Tarra pergi.
Aku masih bingung dengan semuanya.Kali ini aku benar-benar tidak mengerti.Tarra meninggalkanku begitu saja setelah membentakku? Apakah itu benar Tarra?

   Jam menunjukkan pukul 12 siang,saatnya pulang.Biasanya aku selalu keluar kelas bersama Tarra,tapi kali ini tidak.Aku memutuskan untuk pergi ke Taman belakang sekolah.Ini adalah salah satu tempat yang tenang untuk seseorang yang sedang berbeban berat atau stress.Aku duduk di bawah pohon dan menatap langit biru.Perlahan aku meneteskan air mata.

“Hei.” Seseorang menepuk pundakku.Aku menoleh,dan ternyata dia adalah seorang laki-laki.
“Oh,maaf.Aku tidak melihatmu disana.” Aku menghapus air mataku.
“Kamu sedang sedih ya?” Dia bertanya dengan polos.
“Ya,sahabatku marah padaku.Dan aku tidak tahu apa penyebabnya.” Jawabku.

Sahabat terkadang seperti itu.Aku juga pernah punya sahabat,tapi dia meninggalkanku.Aku tidak bisa menemukan seorang yang seperti dia lagi.Hanya dia.” Seakan dia mulai bercerita.Aku mengobrol banyak dengan dia tentang masalah persahabatan.Setelah bicara dengannya,aku merasa lefa dan tenang.Dia adalah orang yang berbeda,dia adalah murid sekolahku juga,tapi aku tidak pernah melihatnya.Senyumnya yang manis membuatku merasa nyaman berada di dekatnya.Cara bicaranya yang santai membuatku mulai tertarik dengannya.Sudah cukup lama aku bicara dengannya.Dan ini saatnya aku pulang.

“Terima kasih sudah berbagi cerita denganku.” Aku melambaikan tangan.
“Jangan sia-siakan sahabatmu itu.” Dia melempar senyum manisnya.Aku kemudian bergegas untuk segera pulang.

   Di Mobil,aku memikirkan kata-kata pria itu.Dan konyolnya aku tidak menanyakan siapa namanya.Dia bahkan tidak memakai name tag.Benar benar konyol,aku terlalu terbawa suasana berbicara dengannya.Keesokan harinya,aku berangkat ke sekolah.Aku menemui Tarra,aku bicara baik-baik dengannya.Tarra bisa mengerti perasaanku dan dia kemudian memelukku erat.Aku mendapatkan kembali sahabatku,semua ini berkat Avatar yang kutemui di taman belakang sekolah kemarin.Tanpa basa-basi,aku langsung menanyakan tentang avatar pada Tarra,siapa tahu Tarra mengenalnya.

“Avatar? Hmm…ada kakak kelas yang bernama Alv.Apa dia orangnya? Tapii…dia sudah pindah satu minggu kemarin.” Tarra berusaha mengingat-ingat.
“Tidak ada?” Tanyaku.
“Sorry,Cait.” Tarra menyesal.

Aku kemudian tersenyum pada Tarra dan segera berlari ke taman belakang sekolah.Aku mencari avatar yang tidak kuketahui siapa dia.Aku kemudian menatap langit pagi.

Terima kasih avatar,kau merubah hidupku.Kemudian terdengar lonceng pertanda masuk kelas,aku segera bergegas meninggalkan taman belakang sekolah.Sejak saat itu aku tidak pernah bertemu avatar lagi.Dia orang yang merubah hidupku untuk selamanya,orang yang mengajariku bersyukur dalam segala hal.

Gilmore G
8A/16

One thought on “Change

  1. Senang sekali mengetahui bahwa SMPK Cor Jesu sekarang memiliki ekskul jurnalistik. Jaman saya dulu belum ada 😊 (saya lulus SMPK CJ tahun 1990).

    Untuk ukuran remaja usia SMP, cerpen ini sudah cukup bagus. Sudah bisa memaparkan sesuatu dengan sangat baik. Hanya saja penulisannya masih kurang rapi. Saya banyak sekali menjumpai tidak adanya spasi setelah tanda baca (titik dan koma). Juga penulisan dialog yang sedikit kurang tepat.
    Contoh :
    – “Tidak ada?” Tanyaku.
    Seharusnya : “Tidak ada?” tanyaku (huruf t pada tanyaku memakai huruf kecil.
    – “Ya,sahabatku marah padaku.Dan aku tidak tahu apa penyebabnya.” Jawabku.
    Seharusnya : “Ya, sahabatku marah padaku. Dan aku tidak tahu apa penyebabnya,” jawabku. (Ada kekurangan spasi setelah tanda koma dan titik pada kalimat, juga seharusnya memakai tanda koma sebelum tanda kutip di ujung dialog.)

    Saya juga menemukan ketidaktepatan penggunaan “di”. Tolong diperhatikan kaidah penulisan “di” sebagai awalan (penulisannya tidak dipisah, misalnya : dimakan, diminum, diletakkan, dsb.) dan “di” sebagai kata depan (penulisannya dipisah, menunjukkan tempat, misalnya : di sana, di sini, di atas meja, di rak buku, dsb.)

    Sepertinya hal-hal di atas adalah hal-hal kecil saja. Tapi harus benar-benar diperhatikan, karena merupakan dasar dari penulisan yang baik dan benar, terutama bila tujuan penulisan itu nantinya untuk dipublikasikan.

    Mohon maaf bila komentar dan saran saya membuat hati tidak berkenan. Semangat belajar, selamat berkarya!

    Salam,
    Lis S.
    dari blog FiksiLizz (www.fiksilizz.blogspot.com)

Tuliskan komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s