Sebuah Cerita Dibalik Angkot

malang angkot abg

Hari ini saya memutuskan untuk menaiki angkot (04/06/15). Di dalam angkot, saya menemui sebuah pemandagan aneh di dashboard angkot tersebut. Saya melihat ada sebuah miniatur becak yang sudah usang dan di lekatkan ke dashboard tersebut.

Rasa ingin tahu saya pun membawa saya untuk menanyakan asal-usul barang tersebut. Mungkin karena melihat saya memperhatikan becak tersebut, bapak supir angkot tersebut memulai percakapan dengan saya. “Becak itu buatan anak saya,” tutur bapak tersebut. Saya langsung memperkenalkan diri kepada bapak yang berusia 31 tahun tersebut. Bapak yang bernama lengkap Roni Zaenudin tersebut menjelaskan, “Saya sengaja tempel disana agar saya selalu semangat dan teringat pada anak dan istri yang sudah menunggu dirumah, toh kalau saya tidak selamat, siapa yang akan menafkahi mereka?”.

Saya pun kembali memperhatikan dashboard mobil tersebut. Bapak ini tidak menyimpan alat penunjuk waktu sama sekali! Saya juga menanyakan hal tersebut kepada bapak tersebut. “Saya tidak pernah melihat jam, saya hanya mengandalkan matahari dan penghasilan,” jawabnya santai. Saya tak habis pikir, betapa lucunya orang ini.

Bapak supir angkot tersebut juga mengaku bahwa ia hanya lulusan SMK. Ia tidak melanjutkan kuliah karena masalah keuangan. Bapak tersebut yang ceria tiba-tiba murung ketika kutanyai pertanyaan-pertanyaan masa lalunya. Ibunya mengalami sakit dan Ia terpaksa harus berhenti melanjutkan sekolah. Pada umur 20 kira-kira tahun 2004, ia mulai menarik angkot demi menafkahi keluarganya.

Begitulah sebuah cerita dibalik kalangan menengah kebawah yang terjadi di Indonesia. Tanpa mereka, negara kita tak mungkin bisa berkembang. Angkutan umum seperti angkot lama kelamaan juga makin sepi. Ia mengaku banyak sekali yang berhenti menjadi supir angkot dan beralih profesi menjadi kuli karena angkot-angkot sekarang menjadi sepi. Ia juga mengeluh karena kemacetan yang ditimbulkan kendaraan pribadi. Ia juga pernah membandingkan Indonesia dengan negara-negara di Eropa. Di negara Eropa orang-orang lebih memilih naik kendaraan umum daripada kendaraan pribadi. Itulah yang menyebabkan negara mereka bebas polusi dan macet.

Yabes Tannaya

7E/25

Tuliskan komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s