Suatu Hari Di Jantung Kota

lolzzz

Hari ini sama saja dengan kemarin. Langit sangatlah cerah tatapi aku masih dikurung di kandang kecilku ini. Majikanku sibuk menonton televisi,akhir-akhir ini di televisi tampak diramaikan berita-berita tentang topan. Mungkin itu alasannya kenapa ia takut mengeluarkanku untuk pergi ke taman kota. Aku ingin sekali keluar seperti terbang bebas seperti para Camar di angkasa, sementara diriku hanya seekor anjing pom bertangan mungil.

Aku sebenarnya hendak tertidur untuk sejenak. Lalu Srek! Suara itu membangunkanku. Ternyata majikanku! Aku senang setengah mati. Aku bergegas lari keluar sebelum majikanku menangkapku. Semangatku membawaku ke sebuah taman di jantung kota. “Taman ini sungguhlah indah, tapi… kemana semua orang?”, tuturku dalam hati. Tiba-tiba seekor Camar datang menghampiriku. “Mengapa kamu bersedih?”, tanya Camar itu. Hasratku untuk ingin bermain pun muncul. Aku mengejar dia dan berusaha untuk menangkapnya.

Camar itu bertengger di pohon besar dekat taman. Lalu seekor Tupai keluar menghampiri Camar. “Kalian menggangu tidurku!”, rengek Tupai itu. “Kami sungguh minta maaf, kami hanya bermain!”, jawab Camar. “Aku sungguh minta ma-”, omonganku terpotong oleh gemuruh besar. Tak ku sadari, sebuah topan raksasa sedang menuju ke arah kita. Kami pun langsung berunding untuk mencari tempat berlindung.

“Mari kita pergi ke bangunan di seberang jalan saja!”, usul Camar. “Tetapi mobil-mobil yang berlalu lalang itu pasti tak akan berhenti untuk kita! Yang ada kita pasti akan ditabrak!”, protesku pada Camar. “Kenapa kita tidak sembunyi di dalam pohonku saja?”, usul Tupai. “Aku tidak akan muat pada lubang pohon kecilmu itu!”, protesku lagi. Camar dan Tupai berdiskusi denganmengabaikan aku. Seketika, mereka meninggalkanku. Tupai masuk ke pohon dan Camar terbang tinggi jauh.

Topan makin mendekat. Aku berlari luntang-lantung mencari tempat terlindung. Apa boleh buat? Aku berlari ke tepian dan sembunyi dengan penuh rasa putus asa. Dengan penuh ketakutan, aku menghadap langit. Aku melihat Camar. Camar terlihat sangat penuh penyesalan. Ia terhisap oleh lidah angin sang topan raksasa. Sungguh pemandangan yang menyedihkan. Aku merenungkan si Camar dan melihat pohon Tupai. Pohon Tupai seketika ambruk pada saat aku melihatnya. Aku tak mengerti apa yang telah terjadi. Aku rasa hanya aku yang selamat.

Yabes 7E/25

2 thoughts on “Suatu Hari Di Jantung Kota

Tuliskan komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s