HARI-HARI SERU DI MAL SATIVA

10801806_301909840016552_2257189763310402543_nLive In kelas 8 merupakan acara yang telah ditunggu-tunggu oleh anak-anak kelas 8 sejak lama. Setelah penantian yang panjang selama berbulan-bulan, berhari-hari, bermenit-menit.. akhirnya hari yang dinanti-nantikan pun tiba. Yay! Pada akhirnya hari ini kami akan berangkat untuk live in!

Live in tahun ini diadakan di tempat yang sama seperti di tahun kemarin yaitu di MAL (Mojopahit Agro Lestari) Sativa di Pacet, Mojokerto. Pertama-tama kami dikumpulkan di bangsal sekolah kami tercinta—SMPK Cor Jesu untuk mendapat beberapa pengarahan dari guru-guru terlebih dahulu. Setelah cukup pengarahan kami pun diberangkatkan dengan menggunakan bis-bis yang sudah disediakan untuk kami. Kebetulan kelas saya kebagian bis 3 sehingga kelompok bis saya berjalan menaiki bis nomor tiga.

Bis pun akhirnya diberangkatkan bersama dengan anak-anak yang geregetan (gak nyabar pingin sampai) dan juga anak-anak yang kakinya kesemutan (contohnya saya) karena tempatnya lumayan sempit. Setelah melalui penantian panjang duduk manis di dalam bis, kami pun akhirnya tiba di lokasi Live in.

Sesampainya di MAL, kami turun dengan membawa barang-barang kami dan langsung menuju ke pendopo besar yang digunakan sebagai tempat berkumpul utama kami selama berada di sana. Di sana kami diberi tahu tentang peraturan-peraturan yang berlaku di MAL dan lokasi-lokasi kamar, kamar mandi, dsb yang akan kami gunakan selama di MAL.

Seusai menata barang-barang kami di kamar, kami langsung berganti baju untuk persiapan belajar di sawah. Kami pun berkumpul kembali ke pendopo, setelah itu diberangkatkan ke sawah. Sawahnya tentu adalah sawah khusus milik MAL yang dipakai untuk pembelajaran. Pertama-tama kami diajari tentang cara menanam padi yang baik oleh Pak Eko dan Pak Yopi barulah kemudian kami mempraktekkannya. Wah, ternyata menanam padi itu menyenangkan dan mudah, lho! Meskipun awalnya saya sedikit jijik, namun lama-lama saya terbiasa dan menikmati kegiatan tersebut. Berikutnya yang sudah selesai menanam padi boleh ikut naik bajak untuk membajak sawah. Bajaknya tentu saja masih bajak tradisional yang menggunakan tenaga sapi. Ketika saya mencoba menaiki bajak tersebut, rasanya mengerikan, selain itu juga sakit karena jalannya kebetulan enggak rata. Nasibb….

Setelah kegiatan persawahan, kami diperbolehkan mencuci kaki dan tangan di sungai. Ternyata airnya itu dingin banget dan sejuk, beda yah sama air di rumah J. Setelah itu kami kembali ke pendopo utama dengan penuh perjuangan sebab kami harus melalui tebing yang curam untuk sampai ke pendopo. Kegiatan kami selanjutnya adalah makan siang, karena lapar maka makanan apapun terasa enak bagi kami.

Kemudian kami diajak berkeliling untuk melihat dan mempraktekkan proses-proses setelah padi dipanen. Diantaranya proses memukul-mukul padi untuk merontokkan bulirnya, proses menampi padi dan proses menumbuk hingga padi siap dimasak menjadi beras setengah jadi.

Setelah itu kami mandi baru kembali lagi ke pendopo. Disana kami menonton upacara wiwitan yaitu upacara warga setempat yang bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur terhadap Tuhan atas panen yang boleh dituai. Upacara ini masih tradisional sekali, selain menggunakan bahasa Jawa berlogat Sansekerta juga menggunakan berbagai macam barang untuk menyimbolkan sesuatu. Misalnya jenang lima warna, tahu tempe, kelapa, kaca, dsb.

Selesai menonton upacara kami makan malam dan merencanakan apa yang akan kami lakukan besok bersmaa dengan kelompok kerja kecil barulah memulai ibadat malam. Setelah itu kami pun dipersilahkankan untuk tidur dan bersiap-siap untuk kegiatan besok pagi.

Esoknya, kami semua bangun pada pukul lima pagi, dan langsung mandi pagi di kamar mandi yang bersih, juga dengan air yang sangat dingin, tetapi segar. Selesai mandi pagi, kami semua kembali ke pendopo untuk makan pagi dan diberi pengarahan untuk kegiatan ke dusun Galenglo. Tak lama, kami semua berangkat sesuai dengan kelompok kecil masing-masing yang sudah dibagi oleh guru-guru dan para pembimbing.

Perjalanan ke dusun Galenglo tidak terlalu jauh, hanya saja curam. Butuh waktu setengah jam lebih untuk mencapai ke dusun. Mungkin kalau jalannya tidak curam, perjalanan ke dusun Galenglo hanya butuh waktu seperempat jam.

Pak pembimbingpun mencarikan tempat tinggal kepada kelompok kecil. Salah satu contohnya saya, yang tinggal sementara di rumah keluarga Bapak Sompin, bersama tiga teman saya.

Kami pun mulai tanya jawab tentang pekerjaan. Dan ternyata, pekerjaan Bu Sompin adalah pertanian, perkebunan, dan perternakan. Tapi, kelompok saya hanya datang ke sawah untuk diajari cara menanam ketela dan cabai. Setelah itu, saya dan kelompok kembali ke rumah untuk makan siang. Meskipun makanannya sederhana, rasanya tetap enak, kok! Ada tahu-tempe, bakwan, sayur asem, telur, dan kerupuk udang, (dan tentunya sama nasi!)

Setelah makan, kami pamit kepada Bu Sompin untuk pulang. Rasanya terharu karena kita sudah dianggap anak sendiri dengan orangtua asuh kita. Kami pun melanjutkan kegiatan selanjutnya, yaitu menuju makam Islam Galenglo, yang sebelumnya ke balai dusun untuk diberi pengarahan lagi! Lalu, kami pergi ke makam beramai-ramai. Kami melihat para pendamping kami yang sedang ritual, selanjutnya, yang mau mendoakan makam tersebut, boleh, asalkan tidak membuat kegaduhan.

Siang yang terik membuat kami semua kepanasan dan kehausan. (Oh, tidak, persediaan minumku habis!) Selanjutnya, kami kembali ke MAL, lalu ke pendopo, dan siswa-siswi boleh istirahat sejenak di kamar, dan mandi. Setelah mandi, kebanyakan anak-anak turun ke lapangan untuk main sepak bola, kejar-kejaran, dsb. Pokoknya, break time!

Sore menyambut, tak terasa, kami sudah harus berada di pendopo untuk snack dan lihat foto-foto kami saat kegiatan. Lalu, kami makan malam yang menunya lezat (menurutku), tempe penyet.

Lalu, kami melanjutkan kegiatan, berbicara dengan narasumber dari Surabaya, membuat lingkaran komitmen kelompok, ibadat malam, dan akhirnya kami dipersilahkan tidur lagi. Dan hari kedua sudah dijalani dengan kepala dingin. Good Night!

Pagi menyambut, tak terasa, hari ketiga adalah hari terakhir kami di MAL SATIVA. Perasaan sedih, senang, gembira, rasanya sudah bercampur J. Dan seperti hari kemarin, kami mandi, sarapan, dan kegiatan lagi. Kegiatan hari ini menuju ke Green House atau biasanya disebut rumah hijau. Rumah hijau ini adalah rumah yang isinya penuh dengan sesuatu yang hijau (tumbuhan), yaitu bunga, pohon kecil, dsb.

Lalu, kami juga diajari cara menanam tumbuhan dan cara menyiram bunga yang baik, agar tanaman dan bunga-bunga tidak mudah rusak. Karena tangan dan kaki kita sebagian kotor, kami semua mencuci tangan dan kaki dengan kran air. Eits, dan kegiatan ini dilakukan dengan kelompok besar, bukan kelompok kecil!

Dan, huh! Akhirnya, sampai juga di pendopo. Lagi-lagi, ada satu tugas lagi yang harus kami kerjakan, yaitu membuat brownies dari ketela ungu dengan kelompok besar. Kalau awalnya, kegiatan ini memang agak sulit, tapi karena berkelompok, tugas jadi ringan dan cepat selesai, tentunya, rasanya enak!

Selepas itu, kami memakan brownies kami yang sudah dikukus dan kami menikmatinya dalam satu kelompok. Hmm, yummy! Setelah menikmati brownies buatan kelompok, kami semua makan siang dengan menu yang lumayan enak. Setekah itu, kami mengemas barang-barang dan pulang ke rumah masing-masing.

Pengalaman kami tidak akan pernah bisa kami lupakan, terutama para pendamping, dan juga orangtua asuh kami yang sudah menjamu kami sebagai tamu besar di rumahnya.

Oleh : Natanael 8E/20, Michelle 8E/16

Tuliskan komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s