Kertas Contekan Yang Pertama

cheating

Oleh Michelle Alexandra 8E/16-
Namaku Michelle, seorang anak kelas 1 SD di SD 001. Suatu hari di kelasku diadakan Ujian Komputer dalam bentuk tes tertulis. Ketika Pak Guru masuk kelas dan mulai membagikan soal ujian, rasanya jantungku seperti mau copot. Ya Tuhan! Aku kan, belum belajar! Dalam sekejap selembar soal ujian telah tersedia di hadapanku. Aku pun melotot panik memandangi deretan soal-soal itu. Apa yang harus kulakukan?

Aku menjerit panik dalam hati. Keringat dingin mengalir dari pelipisku, membasahi sekujur tubuhku.
Diam-diam aku melirik teman sebangkuku yang bernama Lani. Kemudian pandanganku beralih pada kertas lembar jawaban Lani. Hmm, aku berpikir dalam hati. Terlintaslah sebuah ide di kepalaku. Sehati-hati mungkin aku merobek selembar kertas dari notes kuningku. Lalu aku meraih bolpen dan menuliskan beberapa kata di atasnya dengan bolpen hitam. Aku tersenyum jahil memandang hasil tulisanku. Seett! Aku menggeser kertas itu dan meletakkannya di atas meja Lani. Untuk sesaaat aku terdiam menanti reaksinya. Jantungku berdebar kencang, apakah Lani akan membacanya?
Mula-mula Lani hanya mengacuhkan kertas itu, namun akhirnya ia benar-benar membacanya. Gadis itu melirikku dengan pandangan bingung. Sepertinya ia cukup kaget dengan isi suratku. Kenapa ia terkejut? Tentu saja! Sebab di atas kertas itu aku telah menulis kalimat :
Lan, ulangannya susah ya? Contek-contekan, yuk!
Tidak lama kemudian, Lani terkikik pelan menyadari isi suratkku. Ia tahu aku tidak bercanda. Lani buru-buru menulis balasannya untukku, setelah itu ia melempar surat itu ke mejaku. Cepat-cepat kubuka lipatan kertasnya dan kubaca isinya. Ternyata Lani setuju! Terbukti di kertas itu ia menulis :
Oke! Nomor 5 jawabannya apa?
Begitulah isi pesan Lani kepadaku. Aku tersenyum dan menulis balasan untuk Lani. Pada kertas itu aku menulis kata ‘Komputer’ yang kemudian diikuti dengan kalimat: Lan, nomor 2 jawabannya apa?, di bawahnya. Dengan senang hati Lani menuliskan kembali jawabannya untukku. Kami pun saling balas membalas contekkan selama sisa pelajaran itu. Mata kami sangat jeli mengawasi Pak Guru sehingga kami tahu saat-saat yang aman dan tidak aman untuk mengirim contekan. Rasanya hari itu keberuntungan sedang berpihak pada kami. Rencanaku dan Lani sukses besar! Kami berhasil mencontek tanpa ketahuan selama ujian!
Hingga akhirnya bel yang menandakan akhir pelajaran Komputer berbunyi. Pak Guru berdiri dan meminta kami semua mengumpulkan lembar jawaban. Aku dan Lani tersenyum puas mendengarnya, kami pun mengumpulkan hasil kerja kami dengan langkah ringan.
Pelajaran selanjutnya adalah pelajaran PKn. Aku kembali ke tempat duduk untuk mempersiapkan buku pelajaran, namun tiba-tiba suatu kegelisahan yang tidak wajar muncul di dalam hatiku. Perasaan gelisah macam apa ini? Pikirku. Aku berusaha keras mengenyahkan perasaan itu, namun anehnya rasa gelisah itu tak mau hilang dan malah semakin menghantuiku!
Sepanjang sisa hari itu, aku tak dapat menikmati pelajaran maupun berkonsentrasi dan bersenda gurau dengan teman-temanku. Pikiranku selalu saja tertambat pada perbuatanku tadi pagi, mencontek. Sampai akhirnya jam pulang akhirnya tiba, aku menyeret kakiku menapaki jalan pulang ke rumah dengan malas. Sesampainya di rumah, aku langsung masuk dan menghempaskan tubuhku di atas sofa. Kulemparkan tas sekolahku ke atas kursi tanpa menyadari ada sesuatu yang terjatuh.
Tiba-tiba ibuku datang dan langsung memarahiku, “Michelle, jangan tiduran di situ! Ayo bereskan barang-barangmu dulu! Ibu kan, juga sedang sibuk!”
Aku segera bangkit dan memungut tas sekolahku sementara ibu berlalu dari ruangan itu. Namun aku terpaku melihat sebuah benda kecil tergeletak di atas lantai rumahku yang berubin kayu. Kertas contekan itu…
“Bu,” Panggilku perlahan pada malam hari sebelum aku tidur.
“Kenapa, Sayang?” Ibu menoleh padaku.
“Maaf, tadi aku.. mencontek.. waktu ujian.” Aku mengaku jujur sambil memperlihatkan kertas contekanku. “Rasanya tidak enak, gelisah terus…”
Kukira ibu akan marah, namun diluar dugaan, ibu malah memelukku dengan penuh sayang, “Iya, Ibu maafkan. Lain kali jangan diulangi, ya. Mencontek itu tidak baik. Ingat, apapun yang terjadi kamu harus percaya pada dirimu, pada kemampuanmu.”
Aku mengangguk dan tersenyum tulus, “Makasih, Ibu.” Dan tentu saja sejak saat itu aku tak mau lagi mencontek kalau ada ujian. Aku benar-benar kapok!

Tuliskan komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s