PERINTAH MAMA

Motherhood_Family_Caricature

“Priska, tidur sekarang! Ini sudah malam.” Mama sudah mengucapkan kalimat itu berkali-kali. Bagiku Mama adalah salah satu anggota keluarga yang paling cerewet.

“Nanti saja tidurnya. Aku belum mengantuk, Ma.” jawabku dengan berteriak. Karena bosan mendengar ocehan Mama, biasa aku sengaja memutar musik dengan volume keras.

Ketika aku masih terlelap, terdengarlah suara berisik yang sangat kukenal.

“Priska, ayo bangun! Nanti terlambat. Sekarang sudah jam enam.” teriak Mama dari luar kamar. Aku yang masih mengantuk berusaha mengingat ulang kata demi kata yang baru saja Mama ucapkan. Segera aku menengok jam dinding.

“Astaga, udah jam enam dan aku belom siap-siap ke sekolah.” kataku dalam hati. Langsung kuambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah siap semuanya, aku berteriak pada Mama, “Ma, cepetan! Aku telat nih.”

Kukeluarkan jurus lari super cepatku sebelum gerbang sekolah ditutup. Pas sekali. Bel berbunyi, aku sudah sampai di depan kelas. Pelajaran pertama adalah pelajaran membosankan sepanjang masa, yaitu IPS. Pak Guru yang super jayus bagiku itu mulai menjelaskan materi pelajaran. Mataku sudah berkali-kali menutup dan aku juga sudah berkali-kali menguap. Yang terdengar hanyalah ocehan Pak Guru yang mirip dengan kicauan burung. Berisik sekali, pikirku. Halaman buku catatanku masih bersih tanpa goresan bolpoint sedikitpun. Aku melihat jam putih di pergelangan tanganku. Sebentar lagi pelajaran IPS ini akan selesai.

“Anak-anak, besok kita ulangan, ya. Materinya bab yang baru saja kita bahas.” kata Pak Guru sambil membereskan buku-buku di mejanya. Serasa jantungku berhenti beberapa detik saat mendengar ucapan Pak Guru.

“Mau pinjam catatan ke siapa nih?” tanyaku dalam hati.

“Hey, Steve!” teriakku ke arah lapangan.

“Napa?” jawab Steve dengan nada sinis.

“Pinjam cat IPS boleh?” pintaku dengan wajah memelas.

“Ogahlah. Ntar aku belajar pake apa dong?” jawabnya dengan penekanan.

“Ya udah deh.” kataku sambil pergi menjauh.

Aku sudah mencoba meminjam teman lainnya. Tetapi semua jawaban sama saja. Akhirnya aku pun pasrah.

Keesokan harinya.

“Siapkan alat tulis kalian.” perintah Pak Guru.

Saat soal dibagikan, semua temanku mulai mengerjakan. Aku hanya terdiam diri. Menengok ke kanan dan kiri lalu membaca soal lagi. Itulah yang kulakukan hingga waktu ulangan berakhir.

“Ya udahlah mau gimana lagi. Udah terlanjur dikumpulkan.” kataku.

Sesampainya di rumah, aku hanya duduk diam di meja makan.

“Bagaimana dengan nilaiku nanti ya? Mama marah gak ya kalau misal nilaiku nanti di bawah KKM?” tanyaku. Aku masuk ke dalam kamar dan mengambil Hpku. Lalu menyalakan wifi di ruang keluarga. Beberapa menit kemudian, aku mendapat broadcast message dari kontak Pak Guru jayusku itu. Tertera disana nilai ulangan IPS tadi, mulai dari absen awla hingga absen akhir. Hampir saja HPku itu terlempar dari genggaman tanganku.

“Jelek banget nilaiku. Ma.. plis nanti jangan marah ya.” kataku dalam hati.

Jam 18.30 malam. Aku menunjukkan broadcast-an itu pada Mama. Mama membentak dan memarahiku dengan nada keras.

“Aku menyesal, Ma. Seharusnya waktu itu aku nurut sama kata-kata Mama. Maaf ya.” kataku dengan pelan. Lalu Mama memaafkanku dan menasehatiku agar aku tidak mengulangi lagi.

Tuliskan komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s