Pudar Yang Bercahaya

SANYO DIGITAL CAMERA

Matahari sudah sejak tadi duduk dan menunggu

Bayangan hitam berdiri di tiang Sang Merah Putih

Kau datang, meski api tak lagi berteman dengan es

Selangkah di gerbang tua, meski dua helai tak berpijak

Bagai meniti di gurun Sahara, berbalik dari Utara

Ocehan burung gagak mendengung di benak

Kicau burung sudah musnah pada sebelumnnya

Sesekali terantuk dari gonggongan villa

Tak berpendar lagi, meringkuk di bangku almamater

3 kali panggilan menggertak hati dan lintasan otak

Senyuman merekah di balik sedu sedan

Sakit, rasanya !

Kau teriak, beri ilmu yang telah dipelajari berabad

Air mata sudah menetes, Kau usap dengan ketegaran

Selangkah dari depan, mengusap rambut

Saling bicara dari kekosongan, meski hirau sudah menggelegar

Jatuh lagi ! Kau usap dengan sapu tangan Sutera Hijau

Sudah rapuh, suara serak masih berjalan di nadi tangan

Petuah bijak diikhlaskan untuk hati yang beku !

 

Sudah berdering di puncak gunung Sion

Selangkah di depan

Topangan untuk kedua kalinya

Setiap jengkal sudah tercatat di pucuk senja

Demi hidup, lewat hidup yang jatuh

 

Mulai melemah !

Kami datang dengan perkakas masa depan

Goresan pena, hitam di atas putih tertumpah

Tidak untuk sekarang, akan kami simpan

Untuk medan perang di tahun depan, tahun depan, tahun depan

lagi !

Teriakan berkobar-kobar

Untuk yang memanjat tebing di malam gelap

Untuk yang pergi di abad depan

Senyum merekah, walau sakit

Kami berjalan, terantuk, Kau topang, Kau angkat kami

Seharusnya kami ! Kami yang menopang !

Kata mengalir, meski dibalik batu granit

Piala emas sudah berdendang di singgasana

Kau beri kami kata yang indah

Meski lama, untuk menempuh

Piala emas, dari peribahasa berilmu kala

Jatuh lagi ! Kau usap dengan sepia

 

Jantung berdetak ketika ulam tiba

Selangkah tetap diambil untuk sampai di gerbang Cor Jesu

Menanti mata rapuh berbicara

Berbicara untuk Bulan yang terlelap

Lelah ! berbaris karena kemauan

1 menit tertumpah karena pesan

\                           Kau duduk dalam senyuman

Perih dan kesakitan bergulat

Untuk sesaat, jubah putih tersirat

Di ranjang kesakitan….

Mata terkatup, detak sudah berhenti

Tapi tidak mungkin !

Karena suaranya tidak akan hilang

Hiruk pikuk dunia sirna

Kami sudah bawa perkakas masa depan

Terhempas di lautan dalam sesaat !

 

Sang cendekia sudah pulang !

Tinggalkan peta untuk berpetualang

Kami akan menelusuri

Meski Bumi dan Guntur telah bercerai

Di dalam teduh kenyamanan

Kami lihat mata yang bicara

Untuk bertempur di medan perang !

Untuk bertempur di medan perang !

Malam menjemput duka

Sedu sedan berbalik arah

Dan tangan akan selalu terkatup

Kini ia berjalan menjemput cahaya Ilahi

 

Yang kami lihat hanya bangku

Disanalah sang cendekiawan berpalu-talu

Dalam waktu yang lalu haru

Suaranya selalu terngiang

Untuk kami Muridmu!

Berjalan di depan, di belakang tak ada jembatan

Tataplah ke depan, jangan ragu !

 

Selamat Jalan Bu Rini

“ Tatkala genting menggetarkan tetes air pilu, disana kami ingat pesan dan peta masa depan darimu”

(Dipersembahkan untuk Alm. Ibu Sisilia Sudiharini)

 

Oleh : Maria Nightingale/8d

One thought on “Pudar Yang Bercahaya

  1. Bu,slamat jalan…….smoga Tuhan membukakan pintu surga untukmu…anakmu Joko Pramono….doa dan kasih dr lubuk hati terdalam slalu bersamamu…..

Tuliskan komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s