Siap Mengajar dengan Kurikulum 2013

DSC07462

Teladan yang baik lebih efektif daripada kata-kata atau metode pendidikan secanggih apapun. Itulah pedoman yang diterapkan oleh para guru di SMPK Cor Jesu Malang. Sebagai seorang guru baru, pedoman tersebut mau tidak mau juga harus tersemat di jiwa dan pikiran saya. Hari pertama bekerja (16/06/2014), saya dan sekitar 20 guru di SMPK Cor Jesu mengikuti pelatihan kurikulum 2013.

Materi pelatihan diberikan oleh Sudayat dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Dosen sekaligus pakar kurikulum 2013 tersebut menyajikan materi dengan singkat, padat, dan jelas. Inti dan tujuannya adalah agar materi dapat diaplikasikan secara nyata oleh para guru di lapangan. Menurut Dayat, Kompetensi Inti (KI) 1 dan 2 tidak perlu diajarkan, sedangkan KI 3 dan 4 harus diajarkan. KI 1 dan 2 sebenarnya dapat diberikan pada siswa apabila guru telah mencotohkan perilaku yang diberikan pada siswa. Kompetensi yang diberikan setiap mata pelajaran pada KI 1 dan 2 memang merujuk pada budi pekerti dan religius. Hal ini secara tidak langsung juga menuntut guru agar berbudipekerti yang baik dan memiliki jiwa religi yang tinggi. “Jika guru mampu mencontohkan perilaku yang diberikan pada setiap KI 1 dan 2, maka dengan sendirinya siswa akan mencontoh perilaku gurunya,” tegas Dayat.

Trik mengajarkan KI 3 dan 4 juga dibeberkan dalam pelatihan ini. Kompetensi 3 lebih merujuk pada teori, sedangkan kompetensi keempat condong pada praktik atau aplikasi materi tersebut. Seluruh definisi, pengertian, contoh, ciri-ciri, dan bentuk materi disajikan pada kompetensi 3. Untuk praktik, produksi, dan aplikasi diterapkan pada kompetensi 4.

Di akhir materi, seluruh guru diberikan trik dan tips menulis rapor kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013, setiap mata pelajaran punya deskripsi sikap dan pengetahuan dalam nilai rapornya. Ada tiga capaian aspek yang harus dicapai siswa dalam rapornya nanti. Capaian tersebut dimulai dari aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap. Bahkan, tidak menutup kemungkinan bahwa pemberian rangking berdasarkan nilai pada setiap aspek yang diberikan dalam rapor. Bisa saja ada siswa yang rangking satu, namun dalam salah satu aspek saja dan tidak menutup kemungkinan dalam satu kelas ada tiga rangking satu. Selain memberikan nilai dalam ketiga aspek tersebut, alangkah baiknya apabila siswa diberikan catatan dalam setiap kompetensi dasar yang dicapainya. “Hindari kata-kata namun dan akan tetapi dalam penulisan rapor! Ganti dengan kata-kata mohon dikembangkan, karena siswa masih terus berproses dan berkembang di kemudian hari,” pungkas Dayat. (Ard)

Tuliskan komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s